Sumber: The Survival Handbook, New York, DK Publishing, 2009, hal. 8-17 | Essential Survival Skills, New York, DK Publishing, 2011, hal. 6-10

Kebanyakan situasi bertahan hidup timbul dengan dua cara: Anda terjebak ke dalam situasi yang bukan bakat Anda dan di luar kendali Anda, atau (dan ini lebih sering terjadi) situasi berkembang gara-gara serangkaian peristiwa yang dapat dihindari seandainya Anda mengenali tanda bahaya dan menanganinya sejak kesempatan awal. Sayangnya, kebanyakan situasi bertahan hidup terjadi akibat ketidaktahuan, kesombongan, terlalu yakin akan kemampuan sendiri, atau karena meremehkan kekuatan alam.

Entah untuk kemah satu malam ataupun perjalanan setahun keliling Afrika, semakin siap Anda menjumpai tantangan yang dihadirkan oleh lingkungan tertentu, semakin besar kemungkinannya Anda mampu menanggulangi—secara fisik dan mental—jika nanti berhadapan dengan situasi bertahan hidup.

Dalam militer, prajurit mempersiapkan diri untuk situasi bertahan hidup dengan mempelajari prinsip dan teknik dasar kemudian mempraktekkannya hingga menjadi sifat kedua/kebiasaan (second nature). Semakin sering Anda mempraktekkan suatu keterampilan bertahan hidup, semakin banyak Anda akan paham bagaimana dan kenapa itu bekerja, dan semakin banyak Anda akan tahu kekuatan dan kelemahan Anda. Banyak awak helikopter yang pernah tersangkut dalam situasi bertahan hidup, misalnya, menceritakan bahwa, setelah pesawat mendarat di laut, mereka tak ingat bagaimana mereka kemudian meloloskan diri dari pesawat dan berhasil naik rakit penyelamat. Berkat rezim latihan intens, tindakan mereka telah menjadi naluriah dan karenanya di bawah sadar.

Penting pula memilih peralatan dan pakaian yang tepat. Ketika memilih perlengkapan, pikirkan apa yang akan Anda perlukan untuk bertahan hidup jika hal terburuk terjadi. Ini adalah peralatan “baris pertama”, yang harus dibawa sepanjang waktu. Itu memungkinkan Anda fokus pada prinsip-prinsip dasar bertahan hidup yang relevan dengan lingkungan Anda berada, dan terdiri dari pakaian yang akan Anda kenakan dan peralatan dasar bertahan hidup.

Sebelum berangkat, periksa dua kali apakah perlengkapan Anda berfungsi dan apa Anda tahu cara memakainya dengan benar. Semakin Anda paham bagaimana dan kenapa sebuah alat berfungsi, semakin Anda bisa membuat alat seadanya jika itu rusak atau hilang.

Latihan

Dalam situasi bertahan hidup, Anda kemungkinan besar berada dalam kondisi terbaik, secara fisik maupun mental, pada saat-saat sebelum situasi tersebut timbul. Mulai dari situ, dengan kurangnya tidur, makanan, dan air, situasi Anda akan memburuk sampai Anda diselamatkan. Kondisi fisik yang bagus akan membantu Anda mengatasi tantangan yang dijumpai dalam situasi bertahan hidup.

Seiring waktu, latihan merangsang perubahan seperti penurunan berat badan, dan juga perbaikan postur, perawakan, kekuatan, ketangkasan, keawasan mental, dan stamina. Semua ini adalah atribut vital jika Anda berada dalam situasi bertahan.

Jantung yang bugar memompa darah lebih pelan dan efisien daripada jantung yang tak bugar. Jantung wanita, anak-anak, dan kaum tua berdetak lebih cepat daripada pria dewasa muda. Catat nadi Anda pagi-pagi sekali—ini dikenal sebagai “laju dasar”. Semakin cepat nadi Anda kembali ke laju dasarnya usai latihan, semakin bugar Anda.

Persiapan Mental

Tak peduli apakah Anda sedang melakukan backpacking di area terpencil, atau hiking sehari di wilayah familiar, bisa saja timbul situasi yang mengubah keadaan Anda jadi buruk. Dengan cepat Anda memasuki situasi tak dikenal, yang menyebabkan stres psikologis dan emosional hebat, dikenal sebagai “syok psikogenik”. Memahami ini akan membantu Anda menanganinya secara lebih baik dan mengurangi dampaknya.

Orang-orang bereaksi terhadap situasi bertahan hidup secara berbeda-beda, walau Anda boleh menyangka akan menjumpai beberapa reaksi emosional yang sama dari para korban yang sedang mengalami situasi bencana atau sudah bertahan melewatinya. Anda mungkin mengalami salah satu reaksi tersebut selama atau sesudah pengalaman bertahan hidup atau trauma.

Respon psikologis Anda terhadap situasi bertahan hidup sangatlah krusial. Statistik menunjukkan, 95% dari orang-orang yang mati dengan trauma psikologis tewas dalam tiga hari pertama. Hilangnya kemauan untuk bertahan hidup—atau adanya kelainan psikologis yang mencegah Anda menanggulangi kondisi fisik—adalah konsern utama Anda. Jika Anda runtuh secara psikologis, peluang Anda untuk mengatasi situasi akan terancam.

Ada gunanya memeriksa bagaimana orang-orang akan bereaksi dalam situasi bertahan hidup. Dengan pengetahuan ini, kita dapat mempersiapkan diri secara mental untuk peristiwa semacam itu dan, dengan begitu, mengurangi dampak seandainya hal terburuk menimpa Anda saat berada di alam liar. Reaksi psikologis normal terhadap bencana cenderung terjadi dalam pola empat tahap: periode pra-dampak, periode dampak, periode gentar (recoil period), dan periode pasca trauma. Berlawanan dengan keyakinan populer, orang-orang biasanya tidak panik, walaupun itu bisa menular jika satu orang mengalaminya.

Kesimpulan

Pengetahuan dan keterampilan bertahan hidup harus dipelajari—dan dipraktekkan—di bawah kondisi realistis. Menyalakan api dengan bahan-bahan kering di hari cerah, contohnya, tidak akan banyak mengajari Anda. Keterampilan bertahan hidup riil terdapat dalam memahami kenapa api tidak mau menyala dan dalam menyusun solusi. Semakin sering Anda praktekkan, semakin banyak Anda belajar. Menemukan solusi dan mengatasi masalah secara terus-menerus akan menambah pengetahuan Anda dan, pada umumnya, membantu Anda menangani masalah seandainya itu terjadi lagi.

Ingat, tak peduli seberapa bagus peralatan bertahan hidup Anda, atau seberapa luas pengetahuan dan keterampilan Anda, jangan pernah remehkan kekuatan alam. Jika keadaan tidak berjalan sesuai rencana, jangan pernah ragu untuk berhenti dan meninjau ulang situasi dan prioritas Anda.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s